Rabu, 13 Januari 2016

Rintikmu, Hujan

Hujan, rintik – rintikmu menemani sunyinya malamku, beban berat yang aku rasakan kini tak begitu terasa berat, suara rintikmu memenuhi gendang telingaku. Ingin sekali aku menjadi Hujan, menjadi sisi positifmu, menjadi hal yang di tunggu – tunggu banyak orang saat gerah yang menyerang. Hadirmu selalu bersamaan dengan yang lain, sedangkan aku? Selalu sendiri sejak kekasih hati meninggalkan sisi ini.

Hujan, dinginmu membawahku ke rindu, yang harusnya ada dekapan hangat di tubuhku saat dinginmu menyerang, tapi kini hangat itu sudah tak dapat aku rasakan lagi, kini hangat dekapan itu takkan bisa menyapu dinginmu. Dingin mu menyelimuti rinduku.

Hujan, kenapa saat kau turun tidak hanya air saja yang kau bawa? tapi kenanganpun juga kau bawa turun bersama dingin rintikmu. Tak hanya kenangan manis yang kau bawa, kenangan pahitpun sempat kau bawa turun. Teringat saat aku mengetahui hatiku tak berarti lagi untuknya, karena saat itu ku tahu dia menjalin cinta dengan yang lain, dan tak mau tau tentang perasaanku.

Hujan, ku titipkan rinduku padamu, dan sampaikan rinduku ini padanya, sampaikan bahwa aku merindukannya, bahwa aku mencintainya. Tak lagi ku titipkan rinduku kepada bintang – bintang di langit, karena ku tau bintang pun tertutup oleh derasnya rintik yang kau bawah turun, seperti rinduku yang tertutup olehmu, tolong sampaikan padanya.

Hujan, saat nanti jika kau berhenti menurunkan rintikmu, tolong berikan aku warna dengan pelangi, berikan aku cahaya dengan pelangi, walaupun cahaya itu tak begitu terang, tapi tak apa, setidaknya cahaya itu nanti menerangi jalanku menujuh cinta yang lain. Cinta yang benar – benar mengerti perasaaanku dan menghargai perasaanku.

Hujan, untuk yang terakhir, tolonglah sejukkan hati untuk seseorang yang akan menjadi jalanku yang terang nanti. Biarkan aku menanti cinta yang lain, menanti cinta yang pantas untukku. Semua takkan pernah aku sesali, karena aku tau semua tak berhenti sampai disini.

Writer : H.R

Tidak ada komentar:

Posting Komentar